Perkembangan Ilmu Politik dan Masyarakat

 Ilmu politik lahir di Amerika Serikat pada abad kedelapan belas. Itu adalah respons terhadap munculnya fenomena global besar pertama – Revolusi Industri. Peningkatan pesat dalam kekayaan dan pasar menciptakan gejolak sosial ketika orang berjuang untuk menyesuaikan diri dengan cara hidup baru.

Beberapa melihat ini sebagai tanda pemeliharaan ilahi, sementara yang lain melihat ketidakstabilan sebagai akibat alami dari kebebasan baru yang dibawa oleh revolusi industri. Pendekatan baru terhadap politik menjadi populer, dan ilmuwan politik John Locke berpendapat bahwa semua masyarakat harus dianggap “sosial”, dengan cara yang sama bahwa semua objek fisik adalah “organik”.

Karena semua objek dapat dipelajari dari segi interaksinya, maka semua masyarakat harus dipelajari dari segi interaksinya. Namun, di zaman modern, bidang ilmu politik biasanya dibagi menjadi dua bagian utama: filsafat politik dan ilmu politik. Filsafat mempelajari esensi sistem politik dan cara kerjanya. Ilmu politik, sementara itu, mempelajari cara-cara di mana sistem ini berinteraksi, dalam skala yang luas.

Sementara beberapa filsuf politik melihat filsafat sebagai murni abstrak, yang lain berpendapat bahwa itu adalah disiplin yang harus diarahkan pada tujuan praktis. Perkembangan ilmu politik sebagai suatu disiplin tumbuh dari kebutuhan ilmuwan sosial untuk mempelajari bagaimana manusia bertindak terhadap satu sama lain.

Karena sains dan kedokteran hanya memiliki teori sebab-akibat yang sangat luas, banyak ilmuwan sosial tertarik pada pendekatan naturalistik untuk mempelajari perilaku manusia.

Pada akhir abad kesembilan belas, perkembangan ilmu politik sudah mulai mencakup aspek psikologi, sosiologi, ilmu kognitif, matematika, kimia, astronomi, dan ilmu fisika lainnya.

Banyak yang mengembangkan bidang yang tumpang tindih, memperluas penelitian mereka dan membawa metode penyelidikan mereka ke dalam pemahaman yang lebih intuitif tentang bagaimana dunia bekerja. Selama periode inilah mereka yang terlibat dalam ilmu politik mulai disebut secara kolektif sebagai “ilmuwan”.

Salah satu cabang perkembangan ilmu politik yang berasal dari karya para behavioris adalah sosiologi politik. Sumber pertumbuhan ini biasanya ditelusuri kembali ke pemikir Max Weber, yang menggunakan penalaran ekonomi untuk menjelaskan fenomena politik.

Tesis dasar Weber adalah bahwa orang dimotivasi oleh tiga keinginan inti yang unik bagi manusia. Ini adalah kebebasan, komunitas, dan kemakmuran, dan solusinya untuk dilema mengapa individu tertentu berperilaku dengan cara tertentu adalah dengan melihat semua berbagai faktor yang memotivasi orang dan memilih tindakan berdasarkan keinginan ini. Karya Weber, khususnya, bertanggung jawab atas dasar ilmu politik modern, yang mengarah pada pembentukan disiplin ilmu politik saat ini.


Perkembangan ilmu politik juga diuntungkan oleh perkembangan psikologi dan sosiologi. Karya Sigmund Freud meletakkan dasar bagi banyak karya Freud selanjutnya, khususnya pentingnya hasrat erotis dalam membentuk respons psikologis dan sosiologis manusia terhadap dunia. Selain itu, sarjana Pekerjaan Sosial seperti W.E.B. John Diamonds pascaperang telah menyoroti peran hubungan kekuasaan dalam masyarakat, khususnya hubungan kekuasaan gender.

Teori feminis juga memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan ilmu aksi sosial, dengan penelitian yang berfokus pada isu-isu hak-hak perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga. Perkembangan ilmu politik juga diuntungkan dari perkembangan di bidang hubungan internasional, dengan para sarjana menyelidiki pertanyaan mulai dari perang, perdamaian, negosiasi, perubahan lingkungan, pertumbuhan ekonomi, diplomasi, pencemaran lingkungan, dan politik kekuasaan.

Teori hubungan internasional sangat dipengaruhi oleh perkembangan politik internasional pasca Perang Dunia I, dengan para sarjana seperti Edward Said melihat politik Timur Tengah dan opini publik untuk menjelaskan bagaimana kekuasaan, diplomasi, perdagangan, dan masyarakat sipil berinteraksi di negara berkembang.

Mereka berpendapat bahwa ada empat tahap perkembangan sistem politik: sosialisme demokratis, kapitalisme, neoliberalisme, dan politik pribumi/alternatif. Tahap keempat, pemerintahan alternatif, menawarkan harapan kepada mereka yang ingin menciptakan dunia yang lebih baik untuk diri mereka sendiri dan untuk generasi mendatang.

Komentar