Berbicara mengenai politik tentu tidak akan ada habisnya. Bahan ini sudah menjadi makanan sehari-hari di berbagai media, terutama menjelang pemilu. Kita sudah hafal benar dengan alur kegiatan pemilihan seorang calon dari awal sampai dengan akhir. Tetapi apakah hanya itu saja yang dimaksud dengan politik? Tentu Anda akan menganggap bahwa politik tidaklah sesederhana itu, karena masih banyak tanggung jawab yang masih harus diemban oleh seorang yang telah terpilih berupa pemenuhan janji dan keadilan baik itu bagi pemilih maupun orang yang tidak memilihnya sama sekali. Kalau Anda berpikir bahwa politik itu seperti itu, maka Anda telah tertipu. Pada kenyatannya, para “politikus sejati” justru menganggap bahwa politik itu memang tidak lebih dari upaya menarik pendukung sebesar-besarnya agar ia dapat terpilih dan menduduki jabatan yang diinginkannya.
Kekecewaan dari para pemilih yang berujung pada tindakan untuk bergolput ria sudah menjadi hal yang biasa kita dengar. Begitu banyak janji yang diumbar tetapi realisasinya masih jauh dari kenyataan. Banyak pemimpin yang kerjanya cuma ngomong doang, yang dekat di mulut tetapi jauh di tangan. Kekecewaaan itu pun menjadi percuma dan kita terpaksa dibuat menunggu sampai masa jabatannya habis untuk kemudian mencari pengganti yang lain. Kekecewaan itu timbul karena masih banyak pihak yang menganggap bahwa demokrasi yang ada saat ini adalah suatu cara menyampaikan amanat hati nurani rakyat demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Sayangnya kenyataan yang terjadi memang tidak seindah itu. Jika kita mau merubah sudut pandang kita mengenai demokrasi saat ini, maka hal-hal yang menjadi sumber dari segala kekecewaan kita itu akan dapat kita ketahui dengan jelas. Tulisan inilah yang akan mencoba menelanjangi bagian terdalam dari sebuah demokrasi yang telah menjadi patokan bangsa-bangsa di dunia.
Politik saat ini telah berubah bentuk menjadi ajang permainan adu keuntungan antar pemain yang terlibat. Sekarang ini politik bukanlah ideologi, politik adalah sebuah bisnis. Percayakah Anda bahwa politik adalah sebuah bisnis?
Banyak pihak yang memanfaatkan politik sebagai sebuah bisnis. Hasil yang didapat bisa berupa uang maupun kekuasaan. Setiap pihak berusaha menanamkan investasinya pada salah satu partai yang apabila menang maka ia dapat mempunyai akses ke pusat kekuasaan. Karena itu kita lihat bahwa partai-partai besar cenderung mempunyai modal yang besar pula. Padahal kalau kita kembali ke hakikat yang sebenarnya, partai hanyalah sekedar penyampai aspirasi rakyat yang uangnya berasal dari sumbangan suka rela rakyat. Jadi bisa dibilang partai politik adalah bentuk usaha non-profit yang penghasilannya pas-pasan. Kenyataan yang terjadi justru banyak partai besar yang mempunyai uang yang sangat banyak seperti layaknya perusahaan korporasi. Pastilah sumbangan yang diberikan sangat besar. Tentunya orang tidak akan memberikan sumbangan yang cukup besar tanpa mendapatkan apa-apa dari situ. Para penyumbang inilah yang kemudian menjadi pemegang saham yang mengendalikan sebuah perusahaan yang bernama partai politik.
Cara yang lain juga bisa dilakukanapabila kita ingin mendapatkan uang dari bisnis ini. Kita bisa menanamkan sejumlah besar uang sebagai investasi yang hasilnya didapat setelah kita terpilih nanti. Sehingga jangan heran jika para calon yang telah terpilih dengan sangat hinanya menerima suap, hadiah, ataupun mencurinya sendiri dari kas negara. Ini dilakukan sebagai pengembalian modal atas investasi serta memetik keuntungan dari investasi yang telah mereka tanam sebelumnya.
Semakin besar risiko suatu bisnis, maka semakin besar pula keuntungannya. Bisnis ini adalah bisnis yang sangat berisiko tinggi. Dalam bisnis ini apabila kita kalah, maka kita akan kehilangan segala-galanya. Uang yang telah kita investasikan akan hilang terbuang percuma dalam kampanye. Tetapi apabila kita menang, maka kita akan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat dari investasi yang telah ditanamkan. Orang yang bermain di bisnis ini adalah orang-orang nekat yangberani bertaruh banyak dan tidak takut akan risiko yang tinggi. Jadi Jangan heran jika ada anggota parlemen yang gemar bermain judi, karena tipe bisnis ini memang cocok bagi penjudi seperti mereka.
Di Amerika sendiri pun kita lihat betapa perusahaan-perusahaan besar cukup mendominasi kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Dari mafia sampai perusahaan multinasional ikut terlibat dalam bisnis ini. Bukan sesuatu yang heran jika pemerintah yang merasa sebagai pemimpin demokrasi itu selalu menekan negara lain bahkan tidak segan-segan melakukan tindakan kekerasan demi kepentingan para pengusahanya.
Sifat alami politik sebagai sebuah bisnis membuat kebijakan politik yang dibuat oleh pemerintah selalu berubah-ubah mengikuti strategi bisnis yang telah dijalankan. Pada masa menjelang pemilu dapat kita lihat begitu banyak sarana umum yang dibuat dan seolah-olah mereka benar-benar peduli pada rakyatnya. Semua itu dilakukan demi hari keramat yang bernama pemilu. Hari penentuan apakah bisnis kita itu berhasil atau terpaksa gulung tikar dan berpindah peran menjadi golongan yang bernama oposisi. Setelah hari itu berhasil dilalui dengan baik, mereka dapat berbuat sesukanya karena memang itulah inti dari politik. Kebijakan yang dibuat pun kemudian menjadi bertolak belakang dengan kebijakan sebelumnya. Ini semua mereka lakukan demi memenuhi janjinya, bukan kepada pemilihnya, tetapi kepada para penyumbangnya. Ini dilakukan untuk menjamin hubungan jangka panjang dengan para pemegang saham itu agar aliran dana mereka tetap lancar, sekalipun banyak pemilihnya yang kemudian dikorbankan. Untuk itu bisnis ilegal dan terlarang memang harus tetap ada dan tidak akan bisa dimusnahkan, karena di sanalah sumber dana potensial bagi perusahaan politik ini. Ini semua dilakukan demi menjaga keutuhan partai, keutuhan demokrasi, dan keutuhan negeri ini. Di lain pihak, orang yang telah terpilih pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Inilah saat di mana mereka mengambil keuntungan atas semua yang telah mereka korbankan. Akan menjadi hal yang sia-sia segala kritikan dan kecaman yang dilancarkan kepada mereka.
Partai politik mengorganisasikan segala sumber daya yang mereka punya dengan tujuan mencapai jumlah pemilih yang optimal, sehingga akhirnya mendapatkan keuntungan atas penjualan janji-janji politiknya. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga memberikan janji, imbalan, sogokan, atau apapun itu bentuknya agar mereka berhasil memenangkan bisnis yang sangat berisiko tinggi ini. Disinilah semuanya benar-benar dipertaruhkan.
Lantas jika politik adalah sebuah bisnis, kenapa partai politik sebagai sebuah perusahaan tidak menjalin hubungan jangka panjang dengan para pelanggannya yang dalam hal ini adalah para pemilihnya? Seharusnya mereka peduli, karena pelangganlah yang harus diutamakan, bahkan kalau perlu mereka membuat customer service atau after sales service setelah pemilu selesai dilaksanakan. Hal tersebut tidak dilakukan karena sifat alami dari bisnis ini yang memang berorientasi pada jangka pendek. Para calonnya yang hanya boleh menduduki jabatan selama jangka waktu tertentu membuat mereka berpikiran pendek dan cenderung mengambil keuntungan yang singkat. Segala permasalahan yang nantinya timbul setelah masa jabatan mereka berakhir bukan lagi menjadi tanggung jawab mereka. Lagipula masyarakat kita yang mudah memaafkandan mudah ditipu berkali-kali membuat merekalah pihakyang paling mudahdikecewakan. Suara rakyat hanya berguna pada satu hari saja, sedangkan selama lima tahun ke depan suara itu bisa saja dianggap sampah tanpa arti.
Akhirnya siapakah yang menjadi korban? Tentunya kitalah sebagai rakyat yang ikut ambil bagian dalam permainan bernama demokrasi ini. Apalagi bagi Anda yang selalu kesal melihat tingkah laku para elit kita, bagi Anda yang telah banyak mengorbankan waktu berdemo di jalan-jalan, serta bagi Anda yang tidak kebagian kaos gratisan tapi masih mau ikut memilih. Kita telah banyak membuang waktu, uang, tenaga, bahkan nyawa dalam permainan omong kosong seperti ini.
Di sini saya tidak mengajarkan Anda untuk tidak memilih, karena jika kita semua memilih untuk tidak memilih, maka sistem pemerintahan kita akan kacau dan negara tidak akan berfungsi dengan semestinya. Kita dihadapkan pada situasi memilih yang jelek dari yang paling jelek. Pahit memang, tetapi inilah sistem yang telah mengakar selama ribuan tahun dan telah banyak digunakan oleh negara-negara di dunia. Tetapi bukan berarti hal ini harus kita biarkan dan menyerah pada keadaan. Kita perlu membuat sistem baru yang di dalamnya dapat memperbaiki kecacatan demokrasi gaya barat ini. Kalaupun kita sudah menemukan sistem tersebut, akan timbul kendala untuk mengganti sistem yang lama. Apalagi yang kita ganti ini sistem politik, bukan mode pakaian yang tiap tahun bisa berubah-ubah. Tentunya akan banyak tentangan dari berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang telah merasa cukup puas dengan sistem ini hingga akhirnya mereka bisa hidup dengan makmur dan sejahtera. Semakin besar tekanan untuk berubah, maka akan semakin besar pula dorongan dari mereka yang ingin tetap bertahan pada sistem yang lama. Apalagi kemudian muncul kecemasan akan kemampuan dari sistem yang baru jika nantinya benar-benar diterapkan.
Sejarah mencatat bahwa perubahan besar-besaran dari sistem perpolitikan di suatu negara hanya bisa dilakukan dengan cara kudeta. Selama kudeta tidak terjadi, maka sistem itu akan selalu tetap terpakai. Dalam tulisan ini Saya tidak bermaksud mengajak Anda untuk melakukan makar dan bersama-sama menggulingkan pemerintahan yang sah. Akan banyak korban jiwa yang harus ditanggung oleh negeri ini dan memang itulah harga dari sebuah revolusi pemerintahan. Apalagi masyarakat kita memang tidak pernah belajar dari sejarah dan selalu saja ada ratusan bahkan ribuanjiwa melayang dari setiap pergantian rezim pemerintahan. Percaya deh, penulis adalah orang yang cinta damai.
Entah sampai kapan kita akan berhenti dari permainan bodoh ini. Tetapi satu hal yang pasti, harus ada perubahan dalam diri kita, di setiap penjuru negeri, serta dalam setiap generasi. Sebaik apapun sistem yang dibuat, orang-orang di dalamnya yang akan menentukan hasilnya. Sekarang saatnya kita buat perubahan itu, walaupun dirasa kecil dan tidak berarti bagi kita. Jadilah pemilih yang cerdas, yang memilih bukan karena ajakan seseorang, bukan dari besarnya hadiah, atau bukan dari banyaknya penyanyi dangdut yang ikut kampanye. Sekalipun Anda bukanlah politikus ataupun aktivis, setidaknya berikanlah pengertian pada diri Anda sendiri jika terlibat pada bisnis ini ataupun orang yang Anda kenal dan memang terlibat dalam bisnis ini, untuk mau menganggap politik bukanlah bisnis dan uang yang dikeluarkan bukanlah investasi melainkan bentuk pengorbanan terhadap rakyat yang sulit mendapatkan baju baru.
Semoga para korban dari permainan bodoh ini tetap diberi ketabahan. Kepada nyawa-nyawa yang telah melayang dengan percuma, kepada orang yang selalu dikhianati serta ditipu berkali-kali, kepada orang kecil yang selalu ditindas oleh penguasa maupun pemegang sahamnya, kepada orang yang masih menganggap bahwa demokrasi itu mulia demi kesejahteraan dan penyampaian amanat hati nurani rakyat, kepada orang yang terus dan terus mengharapkan datangnya pemimpin yang adil dan benar-benar memperhatikan mereka, serta kepada orang-orang yang selalu dikecewakan dan terus berteriak tiada henti-hentinya. Sungguh kasihan…

Komentar
Posting Komentar