Decak kagum pemimpin-pemimpin bangsa lain tentang Indonesia sering mendatangkan rasa haru dan banggsa anak bangsa. Apalagi kalau menyaksikan bagaimana sang Presiden Jokowi hadir dalam konteks pertemuan-pertemuan berskala internasional.
Respek dan rasa hormat pemimpin-pemimpin dunia terhadap pemimpin bangsa kita memberikan gambaran begitu jelas bahwa pemimpin bangsa kita adalah simbol dari peradaban bangsa ini.
Gambaran dari sebuah peradaban yang disegani dan dihormati dunia. Mereka mengangguk dan menunduk menghormati presiden kita, bahkan bisa saja merasa bangga ketika berdiri dekat dengang Jokowi.
Seperti apa Indonesia di mata dunia?
Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ketika Jokowi membantah anggapan negara lain, bahwa Indonesia tidak bisa menangani teroris di tanah air. Jokowi hadir dengan suara sangat lantang, tegas dan jelas di hadapan barisan pemimpin-pemimpin dunia mengatakan bahwa Indonesia bisa mengatasi itu sendiri, karena hanya kami (Indonesia) yang tahu tentang konteksnya di sana.
Isu ketidaksanggupan itu langsung sirna seketika, sorak tepuk tangan bahkan kembali menukik serupa ejekan pada Donald Trump saat itu. Saat itu, bagi saya momen puncak melalui Presiden kita, Indonesia menunjukkan ketegasan dan keberaniannya untuk tidak bergantung pada negara lain dalam konteks menangani persoalan bangsa ini, maupun persoalan global.
Indonesia hari ini
Ketika menyaksikan kehadiran Jokowi pada momen KTT Asean-As 2022, tampak jelas sekali, Jokowi dihormati layaknya pemimpin-pemimpin bangsa yang hebat; ya memang dunia Barat mengenalnya sebagai presiden hebat.
Bendera Merah Putih diusung dengan hormat. Presiden kita, Jokowi dan Ibu Iriana disapa dan disambut dengan luar biasa. Momen itu spontan menyisakan martabat bangsa ini yang dihormati bangsa lain, termasuk dihormati oleh bangsa-bangsa besar dan super power.
Memang ada yang merilis berita bahwa kedatangan Jokowi tidak disambut oleh pemimpin negara, akan tetapi dalam banyak kesempatan pertemuan internasional, terlihat Jokowi dihormati.
Rujukan untuk mengkritik diri sendiri
Rasa hormat pemimpin bangsa lain atau bahkan rasa hormat warga negara lain terhadap presiden Republik Indonesia bagi saya adalah catatan paling berarti yang bisa menjadi rujukan untuk mengkritik diri sendiri. Rakyat Indonesia umumnya sangat menghormati presidennya. Meskipun demikian, pada kenyataanya terlihat bahwa konteks politik di Indonesia terkadang menampilkan rasa dan aroma yang berbeda. Terkadang banyak salah paham tentang bagaimana menjadi oposisi dalam percaturan politik. Oposisi semestinya tidak berarti bisa menghina dan mencaci maki lawan politik.
Oposisi itu diterima di Indonesia, cuma kendalanya bahwa etika dalam beroposisi terasa belum matang untuk dipublikasikan. Tidak jarang pula beberapa orang yang bisa dikatakan pengamat politik, tetapi prakteknya cenderung menilai dan mengukur dan merendahkan, hingga menghina.
Dalam kenyataan seperti itu, sebenarnya siapapun rakyat Indonesia perlu bercermin diri pada rakyat bangsa lain yang mengagumi dan menghormati presiden kita, Jokowi. Lebih dari itu, saya melihat fenomena cibir dan nyinyir terhadap pemerintah saat ini, lebih karena kepentingan tertentu yang tidak tercapai.
Komentar
Posting Komentar